Selain itu juga Helmi menjelaskan,radikalisme kerap berawal dari penyebaran pemahaman yang mengajarkan kebencian, menolak perbedaan, dan memandang kelompok lain sebagai musuh. Jika tidak diantisipasi sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
Ia juga mengingatkan para santri untuk terus menanamkan sikap toleransi, saling menghormati, menjaga persatuan, serta bijak dalam menggunakan media sosial dan juga jangan mudah percaya terhadap informasi yang belum tentu jelas kebenarannya.
Tak hanya itu Jika menemukan hal-hal yang mencurigakan, jangan ragu untuk berdiskusi dengan guru maupun orang tua,” tegasnya.
Melalui sosialisasi tersebut, Densus 88 berharap para santri tidak hanya memahami bahaya radikalisme dan terorisme, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, damai, dan kondusif.
Pada kegiatan tersebut ia menegaskan peran penting pesantren sebagai benteng moral dan kebangsaan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah derasnya arus informasi digital dan berbagai tantangan ideologi yang berkembang di masyarakat,