Salah satu praktik baik yang dibagikan Maulana adalah Kampung Bahagia, salah satu program unggulan Pemerintah Kota Jambi dalam mewujudkan visi Kota Jambi Bahagia.
Program tersebut mendorong masyarakat menjadi bagian utama dalam pembangunan lingkungan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemanfaatan hasil pembangunan. Kampung Bahagia menyasar 1.650 RT di Kota Jambi dengan mengedepankan pemberdayaan, kolaborasi dan semangat gotong royong.
“Kalau disentuh dengan pendekatan yang tepat, masyarakat bisa menjadi agen partisipasi yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih hidup dan dapat digerakkan,” ungkapnya.
Maulana menilai, partisipasi masyarakat dapat tumbuh ketika masyarakat diberikan ruang, kepercayaan dan kesempatan untuk terlibat secara langsung.
menekankan pentingnya mengidentifikasi dan menggerakkan tokoh-tokoh kunci di tengah masyarakat, seperti tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh adat, tokoh masyarakat serta para ketua RT.
“Banyak diskusi tadi mengenai bagaimana cara memulainya. Tentu dengan menggerakkan tokoh kunci, keterwakilan pemuda, ibu-ibu, tokoh adat dan RT,” jelasnya.
Dalam paparannya, Maulana turut menjelaskan karakteristik Kota Jambi sebagai wilayah perkotaan dengan jumlah penduduk yang cukup besar dibandingkan luas wilayahnya. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menyesuaikan kebijakan pembangunan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan pelayanan dasar, pangan, air dan lingkungan.