Peristiwa ini juga mengingatkan publik pada sejumlah kasus sebelumnya, di mana tahanan berisiko tinggi dapat lolos akibat lemahnya pengawasan hingga dugaan keterlibatan oknum aparat, yang hingga kini tidak sepenuhnya terungkap secara transparan,Desakan Aliansi Masyarakat Anti Narkoba di depan pintu gerbang suara tinggi segera tuntutan copot Kapolda Jambi yg gagal menjalankan tugas dan penegakan Hukum dan tindakan terhadap kaburnya Bandar Shabu kelas Kakap diruang penyidik dirresnarkoba Polda Jambi .
“Ini bukan lagi soal kelalaian. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap sumpah prajurit dan kepercayaan publik,” tegas pernyataan resmi AMAN.
Dalam konteks tersebut, A.M.A.N bersama sejumlah elemen masyarakat sipil di Jambi, yakni FPI, L.I.M.B.A.H, AKBP, HWSB, SASS, menyatakan sikap dan menyampaikan tiga ultimatum keras kepada jajaran Polda Jambi.
Pertama, mendesak agar rekaman CCTV saat peristiwa pelarian segera dibuka ke publik.
AMAN menilai alasan bahwa rekaman masih dalam pemeriksaan Propam tidak dapat diterima, mengingat peristiwa ini telah berlangsung sejak Oktober 2025 dan hingga April 2026 belum ada transparansi yang memadai.
Menurut mereka, penundaan pembukaan rekaman CCTV justru memperkuat dugaan adanya upaya penutupan fakta (cover-up) dan berpotensi mengarah pada obstruction of justice.
“Enam bulan adalah waktu yang sangat cukup untuk melakukan pemeriksaan internal. Jika hingga hari ini CCTV belum juga dibuka, maka patut diduga ada sesuatu yang disembunyikan,” lanjut pernyataan tersebut.